"Apakah setiap pertemuan selalu butuh perpisahan?
Meskipun pertemuan itu diisi dengan kebahagiaan?"
Mataku sayup menatapmu, pipimu yang basah oleh air mata masih
menahan langkahku untuk pergi. Suaramu yang lirih seakan-akan memaksaku untuk
tetap terjangkau dalam tatapan matamu. Dengan kesesakan seperti ini, tidak
mungkin aku mengucap kata pisah secepat ini.
"Kenapa kamu pergi lagi?" Ucapnya lugu dari bibir tipisnya.
"Karena memang tempatku bukan disini." Jawabku pendek. Lalu, beberapa
detik setelahnya, kesunyian datang menyeruak percakapan kecil itu.
"Tapi, belahan hatimu kan ada disini? Aku." Katanya serius sambil
menyorot mataku.
Hanya mata kami yang saling menatap, tatapannya lekat memelukku. Hanya bola matanya
dan bola mataku yang masih sibuk menari-nari dalam lintasannya. Tiba-tiba saja
dia bersandar dibahuku. Kepalaku menempel lembut dengan kepalanya.
"Jadi, kapan pulang?" Dia bertanya dengan tatapan harap, berharap aku
segera melontarkan jawaban pertanyaan hatinya. Dia menggenggam lembut tanganku.
"Belum pergi kok udah nanya pulang?" Ujarku melemah, pertanyaannya
menyudutkanku.
"Aku lebih suka menunggu kepulanganmu daripada menunggu kepergianmu."
Lalu, kami saling memandang. Angin yang menyelinap dari jendela menciptakan
bunyi-bunyi resah yang menghentakkan jendela. Suara nyamuk beradu merdu dengan
helaan nafasku dan nafasnya yang memburu satu-persatu. Aku menatap
langit-langit, namun sayangnya hanya langit-langit, bukan langit. Semua putih,
bukan biru. Semua datar, bukan membentuk awan.
Suara cicak mendecak kagum melihat 2 orang yang saling bersandar di tembok. Aku
dan dia masih terdiam, hanya perkataan hati saja yang merancau dan berteriak di
dalam.
"Apakah setiap pertemuan selalu butuh perpisahan? Meskipun pertemuan
itu diisi dengan kebahagiaan?" Tanyanya lagi. Ah! Aku kembali
tersudut untuk keduakalinya.
Aku menjawab pertanyaan sulit itu dengan semakin erat menggenggam tangannya.
Mataku masih menatap langit-langit, ia juga ikut menatap langit-langit.
Hanya langit-langit polos yang kami lihat dan di langit-langit tak ada rembulan
dan matahari yang menyinari bumi bergantian, di langit-langit hanya ada cicak
yang berlari-lari kecil. Bagiku, menatap langit-langit bersamanya jauh
lebih baik daripada menatap langit biru tapi tidak bersamanya.
Dia masih bersandar diam dibahuku. Matanya masih sembab. Nafasnya masih saja
sesak. Kala itu, aku hanya bisa diam lalu membuka lengan tanganku. Sepasang
lengan yang saling berpeluk adalah bukti bahwa tak ada yang menginginkan
perpisahan. Mungkin, aku memang harus menunda kepergianku.
with love
