Black Moustache Wul's☺: 2012

Kamis, 28 Juni 2012

Inikah Rasanya Jarak?

Jarak sejauh ini tak mampu membuat kita berbuat dan bergerak lebih banyak. Seakan-akan aku dan kamu tak punya ruang untuk saling  bersentuhan juga saling menatap. Rasanya menyakitkan jika keterbatasanku dan keterbatasanmu menjadi penyebab kita tak banyak tahu dan tak banyak bertemu. Setiap hari, kita menahan rindu yang semakin menggebu dan tak mereda. Inikah cara cinta menyiksa? Melalui jarak ratusan kilometer?
Aku menghela napas, membayangkan jika kamu bisa terus berada di sampingku dan merasakan yang juga kurasakan. Maka mungkin tak akan ada air mata ketika hanya tulisan dan suara yang bisa menguatkan kita. Maka tentu saja tak akan ada ucapan rindu berkali-kali yang terlontar dari bibir kita, ketika perasaan itu semakin membabibuta.
Apakah yang kita pertahankan selama ini? Apakah yang kita andalkan sejauh ini? Sekuat apakah perasaan cinta kita? Menahan dan mempertahankan, dan kadangkala memicu pertengkaran. Tapi... itulah manisnya jarak, ia membuat kita saling menyadari, tak ada cinta tanpa luka, tak ada cinta tanpa rindu.
Sayang, apalah arti ratusan kilometer jika kita masih mengeja nama yang sama? Apakah arti jauhnya jarak jika aku dan kamu masih sangat mungkin mempertahankan semuanya? Kita jarang saling bergenggaman tangan, jarang sekali berpelukan, dan sangat jarang saling berpandangan. Namun, percayalah sayang, tak saling bersentuhan bukan berarti cinta kita punya banyak kekurangan.
Apa yang kucari dan apa yang kamu cari? Tak ada, kita masih meraba-raba apa itu cinta dan bagaimana kekuatan itu bisa membuat kita bertahan. Rasa cemburu, rasa ragu, dan rasa rindu sebenarnya adalah pemanis. Tidak ada hal yang sangat berat, jika kita melalui berdua melewatinya bersama.
Selama bulan yang kita lihat masih sama, selama sinar matahari yang menyengat kulit kita masih sama hangatnya, maka pertemuanku dan kamu masih akan tetap terjadi.
Jarak hanyalah sekadar angka, jika kita masih memperjuangkan cinta yang sama.
with love :)
Dwitasari

Jumat, 15 Juni 2012

BACOT !

            Sudah terlalu sering saya menerima perlakuan sampah seperti semalam. Entah apa yang ada dibenaknya, hingga perlakuannya terhadap saya adalah menjadi hobi yang menyakitkan untuk saya. Saya yang setiap hari harus SUPER SABAR dan benar-benar ngertiin dia seperti serasa tidak pernah dihargai. Cukup sakit bukan? 

           Empat hari sudah berjalan, tapi kita masih saja belum baikan seperti semula, saya akui dia memang sedang berusaha menghibur saya untuk melupakan kejadian kemarin, Tapi entah mengapa seperti berat sekali saya untuk melupakannya begitu saja, terlalu sakit! Toh belum ada kata MAAF sekalipun yang keluar dari mulut manisnya. Malahan sebelum itu saya juga yang harus berminta maaf (dengan terpaksa) dan akhirnya saya mengalah. Terus saja begitu dari dulu.

           Sampai dia menyadari kalau saya masih dalam keadaan BADMOOD, diapun kembali marah. Karna usaha dia yang membuat saya untuk tidak badmood lagi itu sia-sia. Ya terang saja, dia sama sekali belum berkata maaf! Padahal dia tau, saya tidak akan memperpanjang masalah jika kata maaf sudah saya dengar dengan baik. Tapi apa? bukan kata maaf yang keluar dari mulut manisnya, tetapi justru kata-kata yang menurut saya agak sedikit KASAR. "Heh denger!, BACOT!" haha :"D Cukup kaget, tercengang dan nyessss! Sakit sekali, rasanya pada saat itu juga saya tidak bisa menahan amarah dan air mata yang akhirnya jatuh juga. Yang sedari tdi saya tahan-tahan dengan sangat menyakitkan, yah akhirnya percuma. Dia membuat saya semakin paraaaaah. Disini saya langsung berfikir, seperti apa sih saya dimata dia? seberharga apa sih saya untuk dia? sesayang apa sih dia terhadap saya? Entahlah, siapa yang bisa menjawab semua pertanyaan dipikiran saya itu.

Dan sekarang yang saya rasain adalah.......
Entahlah......saya muak!


Kamis, 14 Juni 2012

SI “KESEPIAN” DIBALIK FACEBOOK DAN TWITTER

Internet bukan hal yang asing lagi bagi kita. Browsing, chatting, facebookan, twitteran juga bukan hal yang asing bagi kita. Berawal dari friendster, facebook dan menjamah twitter, dunia maya terasa begitu menyenangkan. Dunia maya, tempat yang beberapa dari kita sering kita kunjungi. Yaaah .. Hanya sekedar sebagai tempat mencari hiburan, tempat mengisi waktu luang serta pelarian saat kita merasa dunia nyata agak sedikit membosankan. Relasi sosial tidak lagi dibangun di dunia nyata, tapi seiring dituntut trend, maka relasi sosial dibangun di dunia maya. Semua dikendalikan dari jentikan tangan di keyboard laptop dan keypad handphone.

Tapi pernahkan kita sadari, entah individu di belahan dunia manapun, bahwa eksis berlebihan dan riuhnya dunia maya lahir dari kehidupan seseorang yang sepi dan membutuhkan perhatian walau perhatian itu bersifat digital dan maya.

With love :)
Dwitasari

Rabu, 06 Juni 2012

Lyrics Christina Perri - A Thousand Years ♥

Heartbeats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I’m afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I love you for a thousand more

Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
What’s standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this
One step closer

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I love you for a thousand more

And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I love you for a thousand more

One step closer
One step closer

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I love you for a thousand more

And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I love you for a thousand more



                                               This song is for you ... "the only one in my heart now"

Dear myblog.....

         Dear myblog.... gw bingung mau mulai dari mana. niat gw mau ngeluarin semua uneg2 yg gw pendem selama ini. uneg2 tentang perasaan gw, tentang 'kita', tentang hubungan ini, semua tentang dia pokoknya.
hhhmm.. kalo diliat2 dari postingan blog yg sebelum ini hubungan gw sm dia bener2 memprihatinkan, jujur. gimana enggak, bayangin aja hampir tiap hari berantem! ada aja masalahnya, gw bingung. entah yg kecil, yg besar, bahkan yg kecil sampe dibesar2in pun ada. Berantem-baikan-berantem lagi-baikan lagi-dan seterusnya begitu. parah gak tuh -_-

         Gw sayang sm dia, sayang banget :'( tapi kenapa orang yg gw sayang justru ga pernah bawain kebahagiaan, kenyamanan buat gw . ya gw nulis ini karna kebetulan kita lg ada masalah, lebih tepatnya lg berantem. padahal baru tadi malem baikan skrg udah berantem lagi. Astaghfirullah :(
masalahnya apaaaaa? dia ngajakin ketemu, oke kita ketemu. lantas? tiba2 dia bilang "jemput di naga ya" -_-
what? seenak jidatnya dia bilang gitu ya Allah :( gatau-taunya ya gw tiap nemuin dia sendirian itu selalu waswas dijalan. dari dulu selama kita pacaran gw akuin, gw selalu ngerasa ga dihargain, ga dipeduliin, ga diperhatiin, yaa pokoknya itulah yg bikin gw selalu harus kuat dan sabar ngadepin dia. tapi nyatanya Allah emang menguatkan hati. buktinya sampe sekarang ini, detik ini, gw masih bertahan sm dia walaupun gw sering merasa disakitin sm dia. gw bertahan karna gw sayang, karna gw cinta. tanpa semua itu ga mungkin gw sm dia masih bersama sampe sekarang ini.

         Tapi... semenjak kejadian yg kemarin berantem hebat dan diambang putus, kita bisa bertahan dan sekarang malah berusaha memperbaiki semua kesalahan diantara kita. Itu semua kita selesaikan dengan jalan bertemu, face to face. Alhamdulillah banget :') gw bisa lihat dia ketawa lagi karna gw. Allah dengar doa gw selama ini. Dia selalu ada dalam doa gw. Gw berharap Allah ga akan pernah berhenti ngizinin gw untuk tetep lihat senyum dan tawa manisnya disetiap dia ada disamping gw. Sampe kapanpun......!
        Dan, gimanapun dia, apapun dia, itu ga akan nuntut gw untuk berhenti sayang dia. Mungkin lebay, tapi ini jujur . Semoga elo yg disana, yg sekarang masih betah berdiam dihati gw, suatu saat bisa baca blog gw yg ini :')


Jadi...yang bisa gw petik dari kisah gw sama dia itu "dari setiap pertengkaran atau masalah seberat apapun, sebesar apapun, hanya satu yang bisa menyelesaikannya yaitu sebuah PERTEMUAN"


                                                 dan gw ga sadar ternyata gw nulis ini sambil netesin air mata...

Sabtu, 02 Juni 2012

2 Bulan Terakhir :'(



Ini tentang perasaan saya kepada seseorang. Dia (mungkin) mengira saya adalah "robot" yang tidak memiliki perasaan dan tidak dapat merasakan sakit, sehingga dia bisa mengabaikan saya sesering yang dia suka. Saya selalu memberi perhatian terbaik yang bisa saya berikan, sesering mungkin saya mengingatkan dia agar tidak telat makan, dan sesabar mungkin saya mendengar semua cerita dan permasalahannya. Sayangnya, usaha terbaik saya lebih sering mendapat pengabaian, kadang dia merespon tapi respon itu tidak dia berikan dengan sungguh-sungguh. Respon itu malah terlihat seperti penghiburaan untuk seorang "robot" yang telah kelelahan dan kebingungan.

2 bulan terakhir ini, saya tidak mengerti, apakah semua yang saya lakukan untuk dia adalah hal yang sia-sia atau tidak? Saya tidak mengerti, apakah benih baik yang saya tabur telah siap menuai kebaikan yang saya harapkan atau tidak menghasilkan sama sekali.

Apakah yang saya lakukan selama ini adalah rencana pembahagiaan atau sesuatu yang berpeluang membuat saya kesakitan? Dia berkata sayang dan kangen, tapi kenyataannya dia selalu menggantungkan perasaan saya hingga saya merasa lelah. Dia berkata sayang dan kangen, tapi kenyataannya dia tidak pernah membuktikan sayang dan kangen itu melalui tindakannya yang cenderung sangat amat cuek. Dia berkata maaf, tapi kenyataannya dia mengulang kesalahan yang sama, lagi dan lagi. Bahkan, saat saya menunjukan sikap lelah untuk berharap, dia belum tentu peduli dan memikirkan perasaan saya. Komunikasi yang tercipta satu arah, selalu inisiatif dari saya. Dia tak kunjung memberi kejelasan. Saya benci diabaikan.

Kalau benci diabaikan, lalu kenapa saya tetap bertahan saat saya perhatian tapi dia tidak? Kenapa saya bertahan saat saya merasa kangen tapi dia tidak? Kenapa saya bertahan dianggap “robot”? Kenapa saya bertahan diabaikan? Bahkan semua wanita normal pun tidak ingin mengalami hal seperti ini, tapi kenapa saya bertahan?

Saya memang tidak menuntut status, karena menurut saya perasaan yang kuat tidak dilambangkan dari status. Saya memang tidak pernah menuntut perhatian lebih, karena menurut saya, dia adalah orang yang memiliki segudang kesibukan yang (mungkin) tidak punya waktu untuk memikirkan orang lain. Saya tidak pernah menuntut dia untuk memanggil saya dengan sebutan "sayang", "beb", "dear", or many more, karena menurut saya, panggilan belum tentu melambangkan perasaan seseorang.

Kamu memang pernah membajak otak saya. Disetiap selnya berisi KAMU. Saya sering menulis tentang kamu, memikirkan kamu dan merindukan kamu. Tapi, saya pun juga harus memikirkan, apakah saya merasa bahagia saat menyayangi dan memberi perhatian kepada kamu dengan tulus? Saya percaya, cinta itu harusnya mengobati bukan melukai. Saya lelah, kebingungan. Kamu tidak kunjung memberikan tanda. Saya bukan "robot", saya tahu rasa sakit itu seperti apa, saya juga tahu rasanya diabaikan itu seperti apa.

2 bulan terakhir, kamu yang terbaik. 2 bulan terakhir, cuma kamu yang dapat menyakiti saya dan cuma kamu yang bisa jadi obatnya. 2 bulan, terakhir ...

With tears :’(

Kamis, 31 Mei 2012

Tak Pernah Bebas Mencintai Dia


Aku tak pernah bebas mencintai dia. Dia lebih suka kucintai secara diam-diam. Dia lebih suka kucintai tanpa harus ada banyak orang yang tahu. Itulah kita, dengan kemesraan yang kami sembunyikan, dengan sapaan sayang yang tak pernah terdengar dimuka umum. Seringkali, ada rasa sakit yang menyelinap secara nyata dalam “kerahasiaan” ini, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, aku tak pernah mampu melawan dia yang tetap saja mengatakan sayang meskipun aku selalu dia sembunyikan.

Kami memang terlihat seakan-akan tak memiliki hubungan khusus, kami memang seringkali terlihat seakan-akan tak punya perasaan apa-apa. Padahal, saat kami hanya berdua, perasaan itu membuncah dengan liarnya, rasa cinta itu mengalir dengan derasnya. Tak ada orang lain yang tahu bahwa kami telah bersama, karena dia selalu berpendapat bahwa suatu hubungan memang tak butuh publikasi berlebihan. Tapi, menurutku, ini bukan hanya sekedar pubikasi yang dia ceritakan, nyatanya aku benar-benar disembunyikan, nyatanya saat dia bersama teman-temannya, aku seakan-akan tak pernah ada didekatnya, aku diperlakukannya seperti orang lain. Ada rasa sakit yang sebenarnya diam-diam menyiksaku, tapi aku masih sulit memutuskan tindakan yang harus kulakukan.

Memang, di depannya aku tak pernah mempermasalahkan pengabaiannya, tapi justru tindakan itulah yang membuatku tersiksa dibelakangnya. Aku memang bahagia saat bersamanya, tapi apa gunannya kalau dia hanya sanggup untuk menyembunyikanku? Aku memang merasa hangat jika dalam peluknya, tapi apa gunanya jika pelukan itu semu dan tak bisa terus menghangatkanku? Aku terpaksa menunggu dihubungi lebih dulu, jadi dia akan datang padaku ketika dia hanya membutuhkanku? Padahal aku merindukannya, padahal aku ingin menghubunginya lebih dulu.

Aku seringkali merasa bukan seseorang yang penting dalam hidupnya, karena memang dia jarang memperlakukanku layaknya orang penting dalam hidupnya, padahal aku selalu menganggap dirinya penting dalam hidupku, bahwa sebagian diriku ada bersamanya. Lupakan makan malam romantis, lupakan gandengan tangan yang manis, lupakan boneka yang tersenyum dengan bengis, dia memang tak seromantis pria-pria lainnya, dia memang selalu lupa untuk memperlakukanku layaknya wanita. Mungkin, aku sudah terbiasa disakiti olehnya. Mungkin, perasaanku buta akan cinta sesungguhnya, sehingga perlakuan yang menyakitkan pun tetap kuanggap sebagai perlakuan yang membahagiakanku.

Dia bahkan tak mempertegas status kita. Seringkali aku bertanya, inikah cinta yang kucari jika dia hanya bisa menyakiti? Inikah dunia yang kuharapkan jika aku merasa frustasi di dalamnya?  Inikah hubungan yang akan membahagiakanku jika dia tak pernah menganggapku ada dan nyata? Apakah ini saatnya untuk melanjutkan, atau berhenti di tengah jalan?

with love :)

Menangisi Dia


Mata yang bengkak
Bukti bahwa kau menangisi seseorang
yang penting dalam hidupmu

Wajah yang terlihat sembab
Bukti bahwa ada cinta
yang menyebabkan kamu terluka
lalu menangis
teriris

Cinta adalah pemujaan
maka bagaimana mungkin orang yang memujamu
akan menyakitimu?

Gunakan otakmu
Fungsikan hatimu
Pikirkan sekali lagi
Pantaskah kau menangisi dia?

Terbiasa Kau Sakiti


"Entah mengapa semua perlakuan kasarmu menjadi sesuatu yang masih terlihat lemah lembut dimataku"

Aku selalu kehilangan kamu, lalu kembali menemukanmu. Maksudku, apakah kamu tak bisa benar-benar tetap tinggal? Sehingga saat aku membutuhkanmu maka aku tak perlu lagi mencarimu, maka aku tak perlu lagi repot-repot menunggumu untuk meninggalkan kesibukanmu.

Aku selalu bersabar dengan sikap dan tindakanmu, ketika kamu bahkan tak pernah ada disaat seseorang bertanya siapa seseorang yang menjadi sandaran hatiku saat ini. Aku selalu menunggumu ketika kamu bahkan tak akan kembali hari itu. Sebegitu tak berhargakah aku dimatamu? Sebegitu tidak bernilaikah aku dihidupmu?

Aku tidak pernah berkata BOSAN dan MALAS dengan sikapmu. Aku tak pernah berkata LELAH dengan semua perlakuanmu. Tapi, mengapa kau selalu berkata BOSAN, MALAS, dan LELAH dengan sikapku? Apakah dari semua kesabaran dan keikhlasanku ada hal tersembunyi yang membuatmu resah dan risih? Yang membuatmu tak ingin ditunggu dan tak ingin diharapkan lagi. Aku hanya ingin meminta sedikit saja pengertianmu, sedikit saja perhatianmu agar kau tetap menganggapku ada, seperti aku yang selalu menganggapmu ada.

Aku tahu, mungkin kesibukanmu telah mengubah cara berpikirmu, yang juga ikut mengubah perasaanmu. Mungkin, kamu tidak lagi mengharapkanku seperti dulu. Mungkin, aku bukan siapa-siapa lagi dihatimu. Dan, kemungkinan yang tidak pernah ingin kuketahui bahwa kamu tak ingin lagi diingatkan agar tidak telat makan olehku, bahwa kamu tak ingin lagi diperhatikan kesehatannya serta pola makannya olehku, bahwa kamu tak ingin lagi membagi semua kesedihan dan kebahagiaanmu untukku satu-satunya.

Ternyata, kata BOSAN itu sangat berpengaruh dalam suatu hubungan, seiring berjalannya waktu, seiring dengan datangnya orang-orang baru di lingkunganmu sehingga sedikit demi sedikit mereka telah menggantikan tugas wajibku untuk memperhatikan dan mencoba mengerti keinginanmu. Kamu yang sekarang, kamu yang telah berubah, kamu yang tidak lagi aku kenal.

Tahukah kamu bahwa aku masih saja meminta Tuhan agar terus menjagamu? Tahukah kamu bahwa aku berkali-kali mengucap namamu dalam setiap doaku?  Meskipun berkali-kali Tuhan memperingatkan bahwa "kasih itu lemah lembut" tapi entah mengapa semua perlakuan kasarmu menjadi sesuatu yang masih terlihat lemah lembut dimataku. Entah karena hatiku yang mulai buta, atau karena aku yang terlalu terbiasa kau sakiti .



Tips Bagi Kamu Yang LDR'an






Distance doesn’t matter if you really love the person, what matters most is your honesty and trust for that relationship to work out.

Banyak orang beranggapan bahwa Long Distance Relationship a.k.a LDR a.ka pacaran jarak jauh adalah hal terburuk dalam logika penantian seseorang. Dimana suatu hubungan atas dasar cinta dan kasih terpisah oleh ruang, jarak, dan waktu. Dimana pertemuan nyata tak bisa selalu dilakukan secara intens dan konstan, tapi apakah alasan pertemuan yang jarang dan terpisah oleh batas jarak adalah alasan utama dalam kandasnya hubungan jarak jauh? Berikut ini tips dari saya bagi yang (terpaksa) “menganut paham” long distance relationship. Check this out!

1. Saling Percaya
Setiap hubungan, entah pacaran atau berteman, entah hubungan yang telah berjalan singkat atau pun lama tetap membutuhkan rasa saling percaya. Itulah yang memperkuat langgengnya suatu hubungan, karena melalui tindakan saling percaya itulah, pasanganmu akan lebih merasa dihargai sebagai seseorang yang memang pantas kamu dicintai. Sikap saling percaya secara tidak langsung juga menunjukkan seberapa dalam kamu mengenal pasanganmu, kamu memercayai dia karena kamu mengenal dia dengan begitu dalam. Cinta bukan tentang saling menuduh apalagi saling menerka, cinta itu saling percaya karena kau mencintai dia makanya kau mempercayainya.

2. Saling Menjaga Hubungan dengan Teman-Teman yang Ada Di Jejaring Sosial
Pacaran jarak jauh biasanya mengandalkan beberapa jejaring sosial sebagai peredam rindu walaupun hal tersebut tak menjamin perasaan rindu akan segara hilang, tapi setidaknya jejaring sosial “membantu” melampiaskan rasa rindu itu, walau hanya memandang fotonya, walau hanya membaca tulisan-tulisannya. Jadi, apakah hubungannya antara menjaga hubungan baik dengan teman di jejaring sosial dengan kekasih yang berada jauh disana? Simple! Hubungannya adalah soal kecemburuan yang bisa saja ada karena salah menerka dan salah sangka. Misalnya, kamu sedang wall to wall atau mention-an dengan seorang lawan jenis yang tidak dikenal oleh kekasihmu dan saat kekasihmu online facebook atau twitter dia mencak-mencak dan mulutnya terus saja merancau karena membaca wall to wall dan mention-an kalian, lebih parah lagi kalau ada kata-kata mesra dan emote kiss bertebaran dalam tulisanmu dengan teman lawan jenismu itu. So, tetap jaga caramu berkomunikasi dengan teman-teman dunia mayamu, ingat batasannya, bukan berarti tak sama sekali menggunakan jejaring sosial.

3. Saling Mengerti Kesibukan dan Kegiatan Masing-Masing
Yap! Ini juga adalah hal yang sangat penting, karena ketika kita mampu mengerti kesibukan dan kegiatan masing-masing, tidak ada lagi pertengkaran membabi buta dan cekcok yang sebenarnya tak perlu terjadi. Hal ini yang biasanya jadi kendala, karena pesan singkat tak segera dibalas, karena telephone yang tak diangkat, menyebabkan kecurigaan yang tak beralasan, padahal si dia sedang sibuk dengan tugas-tugasnya, padahal si dia sedang membahas hal yang penting dengan orangtuanya. See? Kalau saling mengerti kesibukan dan kegiatan masing-masing, tentu tak ada yang dapat mengganggu hubungan kalian. Jarak tetaplah jarak, “dia” tak mampu hancurkan perasaanmu.

4. Saling Berpikiran Positif dan Tidak Over Protective
Runtuhnya suatu hubungan jarak jauh bisa saja karena keteledoran dari pikiran orang-orang yang menjalaninya, dan salah satu penyebabnya adalah terlalu sering nefting (negatif thinking) pada seseorang yang dicintai. Pliss, jangan terlalu menurut pada apa yang otakmu katakan, karena kau juga harus melibatkan hatimu saat menilai suatu hal baik atau buruknya, begitu juga dengan pasanganmu. Kau tak boleh terus-terusan menuduh dia ini itu karena kau terlalu dikendalikan oleh pikiranmu yang negatif, dengan perlakuanmu yang seperti itu, dia akan merasa bahwa kau tak menghargai dia sebagai kekasih. Begitu juga jangan terlalu over protective, karena walaupun dia kekasihmu, dia juga harus punya ruang untuk bersosialisasi, jangan batasi lingkungan pergaulannya dengan cara berlebihan. Percayalah pada dia, kekasihmu. Jika dia benar-benar mencintaimu, dia tidak akan mempermainkan rasa kepercayaanmu.

5. Saling…
Dari semua tips di atas, selalu diawali dengan kata SALING, mengapa? Karena kata SALING berarti dilakukan berbarengan, tidak jalan sendiri-sendiri, dan tidak kuat sendiri-sendiri. Suatu hubungan akan bertahan jika dua orang saling berkorban, bukan hanya satu orang saja yang berkorban. Jika hanya satu orang saja yang berkorban, maka hubungan itu akan timpang, melangkah hanya dengan “satu kaki”. Satu orang berkorban untuk suatu hubungan, maka orang lain juga harus ikut berkorban, itulah yang disebut KEKUATAN.

Gimana tipsnya? SESUATU BANGET kan? :D Oh iya, satu lagi nih dari gue, jangan terlalu takut kalau someday kekasih lo disosor orang lain, kalau kekasih lo sayang sama lo, dia enggak akan serong kanan dan serong kiri, tapi kalau dia berani serong kanan serong kiri, yaaaaah itu pertanda dari Tuhan bahwa dia bukan yang terbaik buat lo, berarti lo MASIH SANGAT PUNYA BANYAK kesempatan untuk menemukan yang lebih baik :) Tetap cintai kekasihmu, meski kalian terpisah jarak dan waktu :’)



Dwitasari....... 

Rabu, 30 Mei 2012

Hey, Tuan Egois!


Aku muak dengan semua kelakuanmu. Aku jengah dengan pola pikirmu. Aku lelah dengan caramu memperlakukanku. Aku jera dengan tutur kata dan caramu membentakku. Aku menyerah pada caramu menghakimi semua kesalahanku.

Kau pikir kau pengendali hidupku? Kau pikir kau pemilik jalan hidupku? Hingga begitu mudahnya kau mengatur pola pikirku, hingga begitu saja kau ubah keputusanku. Hey, Tuan Egois! Kau selalu menjadikanku kelinci percobaanmu, kau ubah diriku seperti yang kau mau, karena kau hanya mencintai perubahanku bukan aku yang apa adanya!

Kau sudutkan aku dalam dimensi penuh aturan mainmu, dimana kamulah yang jadi pemeran utama, dimana kamulah yang jadi aktor utama. Sementara aku hanya pemeran pembantu, yang tak kau biarkan untuk berkembang, yang selalu kau atur sesuai keinginanmu. Hey, Tuan Egois! Aku bukan binatang peliharaanmu, yang tetap setia tanpa alasan yang tak jelas!

Apakah aku mainan kesayanganmu? Hingga selalu kau salahkan aku ketika aku kadang mengecewakanmu. Hingga kau sudutkan aku ketika aku tak mampu menjadi seperti yang kau mau? Apakah aku boneka terindah milikmu? Yang bisa kau gerakkan seenak jidatmu, yang bisa kau mainkan sesuka hatimu. Kau pikir hatiku terbuat dari baja? Kau pikir otakku terbuat dari besi? Hingga kau memercayai bahwa aku tak mampu merasakan sakit sama sekali!

Kau selalu membandingkan aku pada semua wanita yang mengelilingi kamu. Hey, Tuan Egois! Kenapa kau tak memilih mereka saja sebagai boneka barumu? Kenapa kau tak memilih mereka yang lebih konsisten daripada aku yang selalu kau anggap salah dimatamu? Dimana otakmu, Tuan Egois? Otak yang selalu kau agungkan ketika aku selalu kau salahkan!

Kau selalu ingin diutamakan. Kau selalu menganggap pernyataanmu benar. Tuan Egois, dengarlah! Tak semua hal yang menurutmu persepsimu baik juga akan baik dalam persepsi orang lain. Tuan Egois, kamu kelewat egois! Kau memutarkan fakta, kau belokkan realita, untuk menjadikanku sebagai tersangka utama! Sedangkan dunia tak melihatku sebagai korban! Kaukah itu, Tuan Egois? Orang yang pertama kali kukenal dengan begitu manis.

Siapakah aku dimatamu? Apakah aku hanyalah seonggok sampah yang tak terlihat di pelupuk matamu? Apakah aku hanya benalu yang menghalangi pertumbuhanmu? Apakah aku hanya batu sandungan yang menjungkalkan langkahmu? Kapan kau menganggapku sebagai anjing setia yang mencintaimu walau dalam keadaan terburukmu sekalipun? Kapan kau menghargai usahaku? Kapan kau menatap mataku dalam-dalam dan berkata “Aku mencintaimu begitu juga kekuranganmu”? Tapi, ternyata aku bukan siapa-siapa dimatamu, aku tak pernah ada saat kau melihat dunia. Aku selalu kau lupakan. Aku hanyalah sepi yang merindukan suasana hangat tapi kehangatan itu tak kudapatkan darimu.

Aku lelah mengikuti aturan mainmu, Tuan Egois. Aku kalah dan lelah. Aku jengah dan menyerah. Jatuh cintalah pada wanita yang mau kau atur jalan hidupnya. Jatuh cintalah pada wanita yang mau kau jadikan boneka kesayangamu. Jatuh cintalah pada wanita tolol yang menurutmu jauh lebih konsisten daripada aku. Kau tak pernah sadar bahwa wanita-wanita seperti itulah yang suatu saat akan membuatmu mengemis perhatian.

Akan ada saatnya kau menangisi kepergianku

Akan ada saatnya kau menyesal telah menyia-nyiakan aku

Akan ada saatnya…





Dwitasari....... 

Untuk Seseorang yang Mungkin Tidak Akan Pernah Membaca Tulisan ini


Aku bosan ketika bangun pagi hari hingga tidur malamku selalu diisi pertengkaran kecil dan bahkan pertengkaran yang cukup besar. Dimana dia selalu ingin menjadi pemenang, dimana dia selalu ingin menjadi aktor utama. Sementara aku, hanya pemain figuran yang tidak berhak melawan, posisiku hanya seseorang yang pasif yang mencoba mengerti semua perlakuannya walaupun ada banyak gejolak untuk melawan.

Ada saja hal-hal kecil yang dia jadikan sebagai acuan untuk berdebat panjang. Masalah komunikasi, masalah perhatian, masalah waktu, dan masalah-masalah lainnya yang selalu terlihat besar saat ia melebih-lebihkannya. Memangnya aku ini tempat sampah, "tempat" dimana ia menumpahkan segala kekesalan dan amarahnya saat ia merasa lelah dengan dunianya? Apa dia tak pernah berpikir bahwa aku sama seperti dia, yang juga punya perasaan? Apa dia tahu, bahwa menjadi aku bukanlah hal yang mudah?

Seringkali aku merasa risih dengan semua hal yang ia lakukan padaku. Rasanya sehari seperti sebulan lamanya. Seringkali aku terdiam melihat semua mengalir tanpa persetujuan dan keinginanku. Seringkali aku ingin lepas, tapi aku merasa jeratan itu masih terlalu kuat. Aku lelah menjalani hubungan yang hanya berjalan di tempat, dimana hanya ada satu orang yang berkorban demi satu orang lainnya. Dimana hanya ada aku yang  berlelah sendirian hanya untuk menjaga sesuatu yang seharusnya kulepaskan.

Dan, untuk kamu, ya kamu! Pria yang dulu pernah kucintai dan kukagumi sebelum aku bertemu dengannya. Jujur, aku merindukanmu. Merindukan sosok dewasa yang dulu pernah menopang dan menegakkan langkahku. Aku merindukan suaramu yang dulu menelusup lembut ke dalam telingaku. Aku merindukan sosok sederhanamu dengan tinggimu yang 196 sentimeter itu. Sekarang, aku tahu bagaimana rasanya bila tidak ada kamu yang mengisi hari-hariku. Sekarang, aku tahu rasanya jika saat bangun pagi tak ada sapamu di inbox handphoneku. Aku benar-benar kehilangan sosokmu. Aku benar-benar takut kehilangan sebagian dari diriku saat aku juga kehilangan kamu.

Ingin rasanya kembali ke masa lalu, ketika masih ada kamu, ketika aku masih bisa tersenyum saat bangun pagi hingga tidur malamku. Saat kamu masih menganggapku lebih dari teman, saat ungkapan rindumu masih sering kudengar dari bibir tipismu, saat kehadiranmu bagai aktor utama drama yang kutunggu-tunggu kemunculannya. Aku masih saja sering memperhatikan nomor handphonemu, menimbang-nimbang apakah aku harus mengirim pesan terlebih dahulu atau aku saja yang menunggumu? Ah... tapi kamu terlalu sibuk, bahkan hanya untuk sekedar sms apalagi menanyakan kabarku.

Setelah kuputar ulang lagi rekaman otakku yang berisi tentangmu, aku mencoba untuk kembali mengingat perlakuan lembutmu dan perlakuan kasarnya. Aku mencoba  mengingat kesabaranmu saat menghadapiku, aku mencoba mereka-reka kembali ucapanmu saat menenangkan amarahku, aku mencoba mengintip kembali usaha-usaha yang kau lakukan agar hubungan kita tidak berjalan di tempat. Bayanganmu berputar-putar di otakku, suaramu terdengar menusuk-nusuk telingaku. Aku benar-benar kecanduan kamu, aku benar-benar kecanduan masa lalu. Aku semakin sadar bahwa tidak ada seorangpun yang bisa membuatku merasa berarti dan luar biasa selain kamu. Aku semakin yakin bahwa kamu adalah seseorang yang berusaha memperbaiki kesalahanku agar aku menjadi seseorang yang baru. Kamu menerimaku lalu menjaga perasaanku, dia menerimaku tapi berusaha merusak perasaanku.

Kali ini, aku tak merasakan kantuk sama sekali, rasa kantuk itu tak benar-benar berarti sampai aku bisa menuliskan ini, sampai aku bisa menikmati hadirmu lewat tulisanku. Aku menyesal kenapa semua hal-hal yang indah seringkali tak bisa terulang? Aku frustasi. Aku kebingungan. Aku butuh hadirmu. Aku butuh kata rindumu. Dimana kamu? Kau tahu? Sejak kemarin aku mencarimu! Hubunganku dengannya diujung tanduk saat ini! Selamatkan aku, bukan selamatkan hubunganku!

Untuk seseorang yang mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini




Selasa, 29 Mei 2012

Merindukanmu Dalam Sepi





Hujan menari-nari perlahan
menggelitik gemas pepohonan
Dan angin mendesah
Tubuhku menggigil
Langit semakin cemas
Ia terus-menerus menangis

Sementara langkahmu semakin menjauh
Saat tubuhku yang kedinginan sempat kau hangatkan dengan jemarimu
Demikian sosokmu terasa lenyap
Ketika labirin kosong di hatiku
mulai terisi olehmu

Janji yang terucap
Seakan-akan menguap
Cinta yang dulu mengendap
Berhembus menjadi uap

Kini...
Aku seperti tungku yang butuh api
Diam-diam merindukanmu dalam sepi

Aku sangat kenal bahasa rindu
Namun kamu selalu saja tak tahu
Padahal kamu penyebab racun di darahku!
Terdakwa dari bisik tangisku

Dan...
Kau pergi ketika semua sudah tertata rapi
Ketika peran mimpi dan nyata mulai berganti



dwitasari..... 

Langit Langit Kamar




"Apakah setiap pertemuan selalu butuh perpisahan? Meskipun pertemuan itu diisi dengan kebahagiaan?"
            Mataku sayup menatapmu, pipimu yang basah oleh air mata masih menahan langkahku untuk pergi. Suaramu yang lirih seakan-akan memaksaku untuk tetap terjangkau dalam tatapan matamu. Dengan kesesakan seperti ini, tidak mungkin aku mengucap kata pisah secepat ini.
            "Kenapa kamu pergi lagi?" Ucapnya lugu dari bibir tipisnya.
            "Karena memang tempatku bukan disini." Jawabku pendek. Lalu, beberapa detik setelahnya, kesunyian datang menyeruak percakapan kecil itu.
            "Tapi, belahan hatimu kan ada disini? Aku." Katanya serius sambil menyorot mataku.
            Hanya mata kami yang saling menatap, tatapannya lekat memelukku. Hanya bola matanya dan bola mataku yang masih sibuk menari-nari dalam lintasannya. Tiba-tiba saja dia bersandar dibahuku. Kepalaku menempel lembut dengan kepalanya.
            "Jadi, kapan pulang?" Dia bertanya dengan tatapan harap, berharap aku segera melontarkan jawaban pertanyaan hatinya. Dia menggenggam lembut tanganku.
            "Belum pergi kok udah nanya pulang?" Ujarku melemah, pertanyaannya menyudutkanku.
            "Aku lebih suka menunggu kepulanganmu daripada menunggu kepergianmu."
            Lalu, kami saling memandang. Angin yang menyelinap dari jendela menciptakan bunyi-bunyi resah yang menghentakkan jendela. Suara nyamuk beradu merdu dengan helaan nafasku dan nafasnya yang memburu satu-persatu. Aku menatap langit-langit, namun sayangnya hanya langit-langit, bukan langit. Semua putih, bukan biru. Semua datar, bukan membentuk awan.
            Suara cicak mendecak kagum melihat 2 orang yang saling bersandar di tembok. Aku dan dia masih terdiam, hanya perkataan hati saja yang merancau dan berteriak di dalam.
            "Apakah setiap pertemuan selalu butuh perpisahan? Meskipun pertemuan itu diisi dengan kebahagiaan?" Tanyanya lagi. Ah! Aku kembali tersudut untuk keduakalinya.
            Aku menjawab pertanyaan sulit itu dengan semakin erat menggenggam tangannya. Mataku masih menatap langit-langit, ia juga ikut menatap langit-langit.
            Hanya langit-langit polos yang kami lihat dan di langit-langit tak ada rembulan dan matahari yang menyinari bumi bergantian, di langit-langit hanya ada cicak yang berlari-lari kecil. Bagiku, menatap langit-langit bersamanya jauh lebih baik daripada menatap langit biru tapi tidak bersamanya.
            Dia masih bersandar diam dibahuku. Matanya masih sembab. Nafasnya masih saja sesak. Kala itu, aku hanya bisa diam lalu membuka  lengan tanganku. Sepasang lengan yang saling berpeluk adalah bukti bahwa tak ada yang menginginkan perpisahan. Mungkin, aku memang harus menunda kepergianku.

with love

Aku Belum Siap Menjadi Semestamu



Aku tak tahu mengapa berkali-kali pertengkaran di antara kita selalu terjadi. Aku tak mengerti apa salahku dan salahmu yang selalu menghasilkan adu argumen tanpa mengerti situasi. Inikah kita yang awalnya selalu merasa memiliki kesamaan? Benarkah  semua sifat egois yang selalu meledak setiap kali kita mempertahankah pendapat?

Ada batu yang sangat keras di kepalamu dan di kepalaku. Ada aliran sungai yang begitu deras pada tutur kataku dan tutur katamu. Mengapa kita tak pernah lelah untuk mencari masalah? Mengapa aku dan kamu selalu senang menyelami jurang perbedaan?

Kita selalu merasa paling dewasa. Kita selalu merasa paling tahu apa yang ada di dunia. Keegoisan yang membuncah liar itu... amarah yang tak terkendali itu... seperti ada iblis yang memporak-porandakan isi otak kita. Sehingga tak ada kata yang tersaring dalam omongan kita. Ah... mengapa kita masih saja saling menyakiti jika kita memang saling mencintai?

Benarkah aku dan kamu telah dewasa? Jika kita masih butuh air mata untuk mencerna semua yang sulit kita mengerti. Benarkah aku dan kamu sangat siap menyatu menjadi kita? Meredam segala ego dan kemunafikan yang ada.

Sebenarnya apa yang ada di labirin otakmu dan labirin otakku? Adakah kita memikirkan kelanjutan yang sedang kita jalani ini?

Mungkin... benar kalau kita masih berjiwa bocah. Kita masih mencoba untuk dewasa. Kita masih mencoba untuk berubah. Peralihan yang paling sulit adalah saat anak ingusan menciumi titik kedewasaan. Jiwamu dan jiwaku masih terlalu lemah untuk mengerti segala hal yang disediakan dunia. Mataku dan matamu masih terlalu lelah untuk menatap segala kemungkinan yang ada.

Awalnya, kita selalu berbicara tentang kesamaan dalam diri kita. Tapi, saat pertengkaran tercipta, kita malah mengungkit perbedaan yang turut menjadi penumpang gelap dalam pelayaran kita. Inikah cara orang dewasa menyelesaikan perkara yang ada? Yakinkah kamu bahwa kita telah dewasa?

Aku benci ketika kita selalu saling menyalahkan... mencari kambing hitam dari setiap permasalahan. Aku benci ketika emosi dalam diriku dan dirimu menjadi begitu dominan saat kita tak mampu berbicara dengan kepala dingin. Aku benci! Sangat amat benci ketika kita berlaku seperti anak TK yang berebut naik perosotan di taman bermain.  Bukankah kau selalu bilang kita telah dewasa? Bukankah kita selalu berusaha bertingkah dewasa ketika bahkan kita tak mampu selalu berpura-pura menjadi dewasa.

Bukan salahku juga bukan salahmu. Ini persoalan kita! Kita yang belum siap mengerti dan menekuni arti cinta yang sesungguhnya. Ini persoalan kesiapan! Kesiapan untuk menghadapi apapun yang mengganggu langkah dan perpindahan kita. Mungkin... kita masih terlalu dini untuk mengerti apa yang terjadi. Kita masih terlalu kecil untuk mengetahui rencana besar yang Tuhan selipkan dalam pertemuan kita.

Mungkin, ini bisa jadi salahku, yang selalu tak mengerti jalan pikiranmu, yang tak terlalu memahami ucapan bibirmu. Mungkin juga ini salahmu, yang selalu memikirkan segala hal dengan logika, yang selalu mencerna banyak hal hanya dengan persepsimu. Dan... kemungkinan berikutnya... ini salah kita. Kita yang tak mampu menahan amarah. Kita yang masih belum mengerti arti bersabar yang sesungguhnya.

Ini bukan yang pertama. Ini terjadi entah-sudah-berapa-kali. Tapi, aku dan kamu selalu memutuskan untuk kembali. Aku dan kamu selalu memutuskan untuk kembali menjadi kita.

Ini seperti siklus pertemuan dan perpisahan yang sulit ditebak waktu dan kronologinya. Perpisahan yang terucap hanyalah pertemuan yang tertunda. Layaknya perpisahan, pertemuan yang tercipta hanyalah perpisahan yang bisa terjadi kapanpun.

Jika berkali-kali kita mengucap kata perpisahan, salahkah jika kita mengharapkan kembali sebuah pertemuan?
Maaf untuk pertengkaran semalam
Aku memang belum terlalu siap untuk menjadi semestamu


postby: dwitasari