Ini
tentang perasaan saya kepada seseorang. Dia (mungkin) mengira saya
adalah "robot" yang tidak memiliki perasaan dan tidak dapat merasakan
sakit, sehingga dia bisa mengabaikan saya sesering yang dia suka. Saya
selalu memberi perhatian terbaik yang bisa saya berikan, sesering
mungkin saya mengingatkan dia agar tidak telat makan, dan sesabar
mungkin saya mendengar semua cerita dan permasalahannya. Sayangnya,
usaha terbaik saya lebih sering mendapat pengabaian, kadang dia merespon
tapi respon itu tidak dia berikan dengan sungguh-sungguh. Respon itu
malah terlihat seperti penghiburaan untuk seorang "robot" yang telah
kelelahan dan kebingungan.
2 bulan terakhir ini, saya tidak mengerti, apakah semua yang saya lakukan
untuk dia adalah hal yang sia-sia atau tidak? Saya tidak mengerti,
apakah benih baik yang saya tabur telah siap menuai kebaikan yang saya
harapkan atau tidak menghasilkan sama sekali.
Apakah yang saya lakukan selama ini adalah rencana pembahagiaan atau
sesuatu yang berpeluang membuat saya kesakitan? Dia berkata sayang dan
kangen, tapi kenyataannya dia selalu menggantungkan perasaan saya hingga
saya merasa lelah. Dia berkata sayang dan kangen, tapi kenyataannya dia
tidak pernah membuktikan sayang dan kangen itu melalui tindakannya yang
cenderung sangat amat cuek. Dia berkata maaf, tapi kenyataannya dia
mengulang kesalahan yang sama, lagi dan lagi. Bahkan, saat saya
menunjukan sikap lelah untuk berharap, dia belum tentu peduli dan
memikirkan perasaan saya. Komunikasi yang tercipta satu arah, selalu
inisiatif dari saya. Dia tak kunjung memberi kejelasan. Saya benci
diabaikan.
Kalau
benci diabaikan, lalu kenapa saya tetap bertahan saat saya perhatian
tapi dia tidak? Kenapa saya bertahan saat saya merasa kangen tapi dia
tidak? Kenapa saya bertahan dianggap “robot”? Kenapa saya bertahan
diabaikan? Bahkan semua wanita normal pun tidak ingin mengalami hal
seperti ini, tapi kenapa saya bertahan?
Saya
memang tidak menuntut status, karena menurut saya perasaan yang kuat
tidak dilambangkan dari status. Saya memang tidak pernah menuntut
perhatian lebih, karena menurut saya, dia adalah orang yang memiliki
segudang kesibukan yang (mungkin) tidak punya waktu untuk memikirkan
orang lain. Saya tidak pernah menuntut dia untuk memanggil saya dengan
sebutan "sayang", "beb", "dear", or many more, karena menurut saya,
panggilan belum tentu melambangkan perasaan seseorang.
Kamu
memang pernah membajak otak saya. Disetiap selnya berisi KAMU. Saya
sering menulis tentang kamu, memikirkan kamu dan merindukan kamu. Tapi,
saya pun juga harus memikirkan, apakah saya merasa bahagia saat
menyayangi dan memberi perhatian kepada kamu dengan tulus? Saya percaya,
cinta itu harusnya mengobati bukan melukai. Saya lelah, kebingungan.
Kamu tidak kunjung memberikan tanda. Saya bukan "robot", saya tahu rasa
sakit itu seperti apa, saya juga tahu rasanya diabaikan itu seperti apa.
2 bulan terakhir, kamu yang terbaik. 2 bulan terakhir, cuma kamu yang
dapat menyakiti saya dan cuma kamu yang bisa jadi obatnya. 2 bulan,
terakhir ...
With tears :’(